Judul di atas muncul dari hati saya. Murni, jujur… Mungkin banyak kalangan yang akan menentang ini. Saya lebih yakin bahwa lebih banyak yang kontra daripada yang pro. Karena kebanyakan dari mereka beralasan bahwa ini hanya memadu kasih, bahwa ini hanya kedekatan saja, bahwa ini hal yang wajar…
Alasan-alasan mereka saya yakin pasti dari nafsu mereka. Mereka yang terbuai dalam nafsu, mereka yang terlingkup dalam ikatan yang tak jelas, hanya memikirkan diri mereka saja dan pasangannya. Tak memikirkan berapa banyak dosa yang telah mereka perbuat. Dari awalnya yang hanya pegangan tangan, lalu berlanjut ke ciuman, lama-kelamaan pelukan, dan puncaknya adalah pergaulan bebas ( na’udzubillah min dzaalik).
Bahkan mereka akan membenci kedua orang tua mereka jika hubungan mereka tidak direstui. Mereka akan memusuhi saudara2 mereka karena saudara2 kandung mereka tak menyetujui pacaran… Lalu apa faedah pacaran? Apakah hanya untuk menuruti nafsu yang menurut mereka adalah CINTA? Apakah hanya untuk saling mendengarkan lontaran kata mesra yang dibumbui oleh bisikan syaithon? Jika kalian memang saling tertarik kenapa tidak menikah saja? Jauh lebih halal. Daripada pacaran, lalu putus, pacaran dengan yang lain dan seterusnya? Tidakkah kalian kasian calon suami atau calon istri kalian hanya mendapatkan sisa2 dari orang lain?
Mungkin tetap ada saja yang beralasan bahwa mereka tidak pernah gandengan tangan, pelukan, dan seterusnya. Bukankah itu boleh? Berarti kami bisa menyebut mereka belum sadar. Belum sadar dari mimpi yang sejenak. Saya yakin mereka tetap melakukan aksi saling memuji yang sebenarnya secara tak sadar mereka telah membangkitkan nafsu mereka. Mereka terkadang lalai dalam melakukan hal lain. Mereka sebelum pacaran akan bangun saat subuh untuk shalat berjamaah di masjid, maka saat pacaran kemungkinan besar mereka akan lebih jarang ke masjid.
Selanjutny adalah pandangan. Walaupun mereka yang berpacaran tidak melakukan kontak langsung, tapi kemungkinan besar mereka akan sering saling pandang, saling lirik, dll. Tidak sadarkah bahwa itu bisa memunculkan nafsu birahi? Bukankah Islam memerintahkan wahai muslimiin wa muslimaat untuk menjaga pandangan? Jika kita sebagai pemuda muslim tidak bisa melaksanakan perintah itu, lalu siapa yang akan melaksanakannya? Orang Islam zaman dahulu saat berjaya adalah orang2 yang berkarakter kuat. Tapi sekarang kita telah banyak menghilangkan karakter2 itu… Malah kita ikut2an budaya lain dan membangga2kan hal itu. Sungguh memilukan.
Maaf jika artikel ini banyak menyakiti hati kalian. Saya hanya menyampaikan isi hati yang butuh diluapkan.
Syukran katsiran litaqrouuna haadzal qirooati
SocialVibe