Kita Semua Calon Penerus Perjuangan Bangsa

22 12 2010

Kemarin adalah hari terakhirku di semester 1 kelas xii di smala. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Mungkin tidak terasa berjalan. Tetapi terasa berlari. Begitu cepat. Hingga aku merasa, sepertinya baru kemarin aku masuk smala.

Hari terakhir di semester 1 ditutup dengan final-final lomba olahraga yang telah diadakan dalam beberapa hari terakhir dan lomba-lomba seru-seruan. Kok seru-seruan? Ya! Emang seru-seruan. Namanya juga lomba habis UAS. Tujuannya adalah untuk merefresh otak kita yang telah butek, stres, jayus (oh, ini ga masuk ya), dsb (dan saya bingung). Otak yang telah bekerja kurang lebih sekitar kira-kira (maaf menggunakan kata2 ga efektif) 6 bulan. Dan puncaknya saat UAS.

Nah, terus apa hubungannya dengan judul yang kayanya juga geje itu? Namanya juga lomba buatan manusia. Pasti tak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Kekurangan kekurangan itu bisa berasal dari macam-macam hal. Tapi banyak anak kelas xii yang mengkritik panitia yang kelas x dan xi. Ada yang bilang ga tersedia wasit yang adil, ada yang bilang panitianya ga tegas, dan semacamnya. Dan masalah lain adalah ada kelas-kelas mengejek beberapa kelas lain karena “kelas”nya. Dan yang ada juga kelas-kelas yang tak terima dengan keputusan-keputusan panitia.

Okelah mari kita tinjau satu-satu (woosh, koyo wong serius ae hahaha). Dari segi panitia, seharusnya mbak mas itu bisa “sedikit” mengerti lah. Namanya manusia pasti punya salah. Panitia-panitia yang isinya anak kelas x dan xi sebenernya sudah luar biasa. Mau menunjukkan kreativitas mereka. Banyak lomba-lomba yang menurut saya “baru” dan “segar”. Nah, karena lomba baru, maka dibutuhkan aturan-aturan baru. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, namanya juga lomba-lomba yang aturan-aturannya dibuat manusia. Ingat, aturan-aturannya hanya dibuat manusia, pastilah ada kekurangan. Aturan-aturan lomba lama aja masih ada kekurangan. Apalagi lomba baru. Selain itu, mereka kan masih belajar. Kalo ada kesalahan itu biasa, kalo gamau ada kesalahan, ya ga usah belajar. Jadi mbak masnya harus maklum atas kekurangan-kekurangan yang terjadi. Janganlah menekan adik kelasnya terus. Kasian. Malah kita harus beri apresiasi atas ide-idenya yang brilian.

Yang selanjutnya saya akan membahas yang antar kelas saling mengejek dan mengolok. Entah itu karena “kelas” nya ataupun yang katanya curang atau yang lainnya. Cemandh-cemandhku semuanya, anak-anak kelas xii. Kita sebentar lagi lulus (semoga lulus 100% dengan jujur dan smala meraih nilai UN tertinggi nasional, amin). Ngapain kita berpecah belah. Ngapain kita saling bermusuhan. Apa sih manfaatnya? Ini hanyalah lomba. Tujuannya untuk refreshing. Janganlah gara-gara “human error” panitia, malah jadi pecah. Untuk apa? Apa manfaatnya perpecahan itu?

Kemudian bagi yang mengolok-olok “kelas”, ngapain mengolok-olok begitu? Apakah kalian sudah tidak punya rasa peduli terhadap “kelas” yang diolok-olok itu? Apakah kalian tidak kasihan terhadap mereka. Mereka juga teman kita. Kita adalah smalane. Janganlah saling menyakiti. 5 atau 10 tahun ke depan, mungkin saja kita akan membutuhkan teman-teman yang ada di “kelas” lain tersebut, dan itu TIDAK AKAN MELIHAT KELAS lagi. Misalnya, kita membutuhkan pekerjaan di suatu saat, terus ada teman yang sudah punya perusahaan. Saat itu, apakah kita akan melihat “kelas” itu lagi?

Setelah kita lulus nanti, cap kita adalah lulusan SMALA. Bukan lulusan kelas s atau lulusan kelas r. Jadi kita ini sama! Ga ada yang beda! Jadi hilangkanlah rasa2 “anti…” dan sebagainya. Marilah kita kembali bersatu, kembali berjuang bersama untuk membawa SMALA menjadi yang terbaik. Karena kita semua punya tugas sama, posisi sama. Kita semua calon penerus perjuangan bangsa. Tetap bersatu! Jangan berpecah belah!

Sekian dulu tulisan ini (tulisan atau ketikan ya?). Kayanya susunan katanya amburadul lagi. Maaf kalau masih amburadul. Mohon dimengerti karena saya bukan ahli menulis. Selain itu, jika ada kata2 saya yang menyinggung, maafkan saya juga. Karena hanya Allah saja yang Maha Sempurna. Terima kasih. :)





Semua Yang Hidup Pasti Mati

20 12 2010

Mendengar ajakan teman-teman kelasnya untuk melayat karena ada keluarga temannya meninggal dunia, dia hanya terdiam. Karena baru kali ini dia akan melayat. Dia berpikir, apakah yang akan dilakukan di sana. Apakah berdiam diri? Atau mengobrol? Atau bagaimana?

Anggap saja namanya si fulan. Si fulan ini hanya mengiyakan ajakan teman-temannya itu. Dan dia mendengar kabar lebih lanjut, bahwa teman-temannya akan melayat sebelum jenazah dimakamkan. Agar mereka bisa ikut memakamkan jenazah.

Jadilah si Fulan ini berangkat ke tempat berkumpul yang sudah direncanakan sebelumnya agar bisa berangkat ke rumah temannya bersama-sama. Setelah berkumpul semua, merekapun berangkat bersama-sama.

Sesampainya di rumah temanya itu, mereka dipersilahkan duduk. Mereka semua menunggu di luar, termasuk si Fulan. Si Fulan hanya melihat sekitar, mengobrol dengan temannya, dan berbicara dalam hatinya, “oh, begini ya melayat itu”. Awalnya tidak ada hal yang istimewa yang dia dapatkan. Dia hanya menunggu. Tapi tak tau sampai kapan. Fulan dan teman-temannya menunggu jenazah agar dibawa ke tempat persinggahan terakhirnya di dunia.

Dan momen itu pun datang juga. Jenazah disiapkan untuk dibawa ke kuburan. Semua yang hadir di sana berdiri. Melihat ke arah yang sama. Hati Fulan pun mulai bergetar. “Wah, nanti kalau saya mati siapa yang mengurusi seperti ini”, pikirnya. Beberapa saat kemudian, dibawalah jenazah oleh rombongan keluarga ke kompleks kuburan yang ada di dekat rumah temannya itu. Si Fulan mengikuti rombongan itu. Namun, dia dan teman-temannya berada di rombongan paling belakang.

Mereka pun ikut masuk ke kompleks kuburan yang di dalamnya telah ada tanah kosong yang digali dan disiapkan untuk menguburkan jenazah. Hati Fulan semakin kencang bergetar. Dia tak mengetahui perasaan apa ini.

Singkat cerita, jenazah pun dimasukkan ke liang lahat dan dikuburkan. Tak ada sedikitpun harta yang dimasukkan kecuali beberapa lembar kain kafan. Dan sekarang hati fulan berguncang sangat keras. Dia ingin sekali menangis. Hatinya berbisik, “Ya Allah, akankah kelak aku seperti ini? Meninggalkan semuanya yang ada di dunia? Tidak ada sanak familiku dan harta-hartaku yang menemaniku di sana? Lalu bisakah aku menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar-Nakir tentang siapa Tuhanku, Nabiku, Agamaku, dan Petunjukku? Jikapun bisa, apakah aku akan menjawab dengan lancar? Setelah itu, akankah aku terhindar dari siksa kubur? Ya Allah, ampunilah aku yang sering tak bisa menghindar dari dosa-dosa kecil dan besar. Ampunilah hamba-Mu ini yang penuh dengan lumur dosa, yang sering kufur terhadap nikmat-Mu, yang sering lalai dalam mengerjakan kewajiban-kewajibannya yang menjadi hak-hak-Mu. Karena aku mengetahui dari firman-firman-Mu bahwasanya siksamu amatlah pedih. Aku tahu, aku tak akan pernah mampu, tak akan pernah kuat untuk menerima azab yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahiliyahku. Ya Allah, ampuni aku”.

Walaupun fisiknya terlihat tegar, tapi hatinya menangis, berteriak sangat kencang. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun, dia tak ingin matanya terurai air mata. Biarkanlah hatinya saja yang menangis sejadi-jadinya. Setelah hari itu, ia pun bertaubat, taubatannasuha. Dan ingin kembali menempuh jalan-Nya yang lurus

***

Hikmah dari cerita yang strukturnya kurang baik ini adalah kita sebagai manusia kelak pasti mati. Allah telah menyatakan, setiap yang hidup pasti mati. Termasuk kita. Maka pertanyaannya. Apakah bekal kita? Apakah yang kita persiapkan untuk menghadapi kematian itu? Apakah kita mempersiapkan harta kita? Ataukah amalan-amalan baik? Atau bahkan, dosa-dosa dan maksiat kita? (na’udzubillah min dzaalik). Ya! Harta dan seluruh saudara kita tak akan menemani kita di alam kubur kelak. Hanya amalan-amalan kita yang akan menemani.

Hikmah selanjutnya, mungkin kita sering acuh tak acuh jika ada orang-orang yang meninggal dunia. Bukan acuh tak acuh sih. Kita peduli, tapi peduli hanya di lisan. Hanya mengucapkan “inna lillah wa inna ilaihi raaji’uun”. Dan selanjutnya? Selesai. Tak ada niatan untuk berta’ziah, menghibur keluarga. Padahal kalau kita berta’ziah, maka pahala yang didapatkan sangat banyak, apalagi kalau kita ikut menshalatkan.. Selain pahala yang banyak, mungkin kita akan mendapatkan sesuatu yang didapatkan si Fulan tadi. Bertaubat…








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.