Semua Yang Hidup Pasti Mati

20 12 2010

Mendengar ajakan teman-teman kelasnya untuk melayat karena ada keluarga temannya meninggal dunia, dia hanya terdiam. Karena baru kali ini dia akan melayat. Dia berpikir, apakah yang akan dilakukan di sana. Apakah berdiam diri? Atau mengobrol? Atau bagaimana?

Anggap saja namanya si fulan. Si fulan ini hanya mengiyakan ajakan teman-temannya itu. Dan dia mendengar kabar lebih lanjut, bahwa teman-temannya akan melayat sebelum jenazah dimakamkan. Agar mereka bisa ikut memakamkan jenazah.

Jadilah si Fulan ini berangkat ke tempat berkumpul yang sudah direncanakan sebelumnya agar bisa berangkat ke rumah temannya bersama-sama. Setelah berkumpul semua, merekapun berangkat bersama-sama.

Sesampainya di rumah temanya itu, mereka dipersilahkan duduk. Mereka semua menunggu di luar, termasuk si Fulan. Si Fulan hanya melihat sekitar, mengobrol dengan temannya, dan berbicara dalam hatinya, “oh, begini ya melayat itu”. Awalnya tidak ada hal yang istimewa yang dia dapatkan. Dia hanya menunggu. Tapi tak tau sampai kapan. Fulan dan teman-temannya menunggu jenazah agar dibawa ke tempat persinggahan terakhirnya di dunia.

Dan momen itu pun datang juga. Jenazah disiapkan untuk dibawa ke kuburan. Semua yang hadir di sana berdiri. Melihat ke arah yang sama. Hati Fulan pun mulai bergetar. “Wah, nanti kalau saya mati siapa yang mengurusi seperti ini”, pikirnya. Beberapa saat kemudian, dibawalah jenazah oleh rombongan keluarga ke kompleks kuburan yang ada di dekat rumah temannya itu. Si Fulan mengikuti rombongan itu. Namun, dia dan teman-temannya berada di rombongan paling belakang.

Mereka pun ikut masuk ke kompleks kuburan yang di dalamnya telah ada tanah kosong yang digali dan disiapkan untuk menguburkan jenazah. Hati Fulan semakin kencang bergetar. Dia tak mengetahui perasaan apa ini.

Singkat cerita, jenazah pun dimasukkan ke liang lahat dan dikuburkan. Tak ada sedikitpun harta yang dimasukkan kecuali beberapa lembar kain kafan. Dan sekarang hati fulan berguncang sangat keras. Dia ingin sekali menangis. Hatinya berbisik, “Ya Allah, akankah kelak aku seperti ini? Meninggalkan semuanya yang ada di dunia? Tidak ada sanak familiku dan harta-hartaku yang menemaniku di sana? Lalu bisakah aku menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar-Nakir tentang siapa Tuhanku, Nabiku, Agamaku, dan Petunjukku? Jikapun bisa, apakah aku akan menjawab dengan lancar? Setelah itu, akankah aku terhindar dari siksa kubur? Ya Allah, ampunilah aku yang sering tak bisa menghindar dari dosa-dosa kecil dan besar. Ampunilah hamba-Mu ini yang penuh dengan lumur dosa, yang sering kufur terhadap nikmat-Mu, yang sering lalai dalam mengerjakan kewajiban-kewajibannya yang menjadi hak-hak-Mu. Karena aku mengetahui dari firman-firman-Mu bahwasanya siksamu amatlah pedih. Aku tahu, aku tak akan pernah mampu, tak akan pernah kuat untuk menerima azab yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahiliyahku. Ya Allah, ampuni aku”.

Walaupun fisiknya terlihat tegar, tapi hatinya menangis, berteriak sangat kencang. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun, dia tak ingin matanya terurai air mata. Biarkanlah hatinya saja yang menangis sejadi-jadinya. Setelah hari itu, ia pun bertaubat, taubatannasuha. Dan ingin kembali menempuh jalan-Nya yang lurus

***

Hikmah dari cerita yang strukturnya kurang baik ini adalah kita sebagai manusia kelak pasti mati. Allah telah menyatakan, setiap yang hidup pasti mati. Termasuk kita. Maka pertanyaannya. Apakah bekal kita? Apakah yang kita persiapkan untuk menghadapi kematian itu? Apakah kita mempersiapkan harta kita? Ataukah amalan-amalan baik? Atau bahkan, dosa-dosa dan maksiat kita? (na’udzubillah min dzaalik). Ya! Harta dan seluruh saudara kita tak akan menemani kita di alam kubur kelak. Hanya amalan-amalan kita yang akan menemani.

Hikmah selanjutnya, mungkin kita sering acuh tak acuh jika ada orang-orang yang meninggal dunia. Bukan acuh tak acuh sih. Kita peduli, tapi peduli hanya di lisan. Hanya mengucapkan “inna lillah wa inna ilaihi raaji’uun”. Dan selanjutnya? Selesai. Tak ada niatan untuk berta’ziah, menghibur keluarga. Padahal kalau kita berta’ziah, maka pahala yang didapatkan sangat banyak, apalagi kalau kita ikut menshalatkan.. Selain pahala yang banyak, mungkin kita akan mendapatkan sesuatu yang didapatkan si Fulan tadi. Bertaubat…

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.