Kemarin adalah hari terakhirku di semester 1 kelas xii di smala. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Mungkin tidak terasa berjalan. Tetapi terasa berlari. Begitu cepat. Hingga aku merasa, sepertinya baru kemarin aku masuk smala.
Hari terakhir di semester 1 ditutup dengan final-final lomba olahraga yang telah diadakan dalam beberapa hari terakhir dan lomba-lomba seru-seruan. Kok seru-seruan? Ya! Emang seru-seruan. Namanya juga lomba habis UAS. Tujuannya adalah untuk merefresh otak kita yang telah butek, stres, jayus (oh, ini ga masuk ya), dsb (dan saya bingung). Otak yang telah bekerja kurang lebih sekitar kira-kira (maaf menggunakan kata2 ga efektif) 6 bulan. Dan puncaknya saat UAS.
Nah, terus apa hubungannya dengan judul yang kayanya juga geje itu? Namanya juga lomba buatan manusia. Pasti tak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Kekurangan kekurangan itu bisa berasal dari macam-macam hal. Tapi banyak anak kelas xii yang mengkritik panitia yang kelas x dan xi. Ada yang bilang ga tersedia wasit yang adil, ada yang bilang panitianya ga tegas, dan semacamnya. Dan masalah lain adalah ada kelas-kelas mengejek beberapa kelas lain karena “kelas”nya. Dan yang ada juga kelas-kelas yang tak terima dengan keputusan-keputusan panitia.
Okelah mari kita tinjau satu-satu (woosh, koyo wong serius ae hahaha). Dari segi panitia, seharusnya mbak mas itu bisa “sedikit” mengerti lah. Namanya manusia pasti punya salah. Panitia-panitia yang isinya anak kelas x dan xi sebenernya sudah luar biasa. Mau menunjukkan kreativitas mereka. Banyak lomba-lomba yang menurut saya “baru” dan “segar”. Nah, karena lomba baru, maka dibutuhkan aturan-aturan baru. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, namanya juga lomba-lomba yang aturan-aturannya dibuat manusia. Ingat, aturan-aturannya hanya dibuat manusia, pastilah ada kekurangan. Aturan-aturan lomba lama aja masih ada kekurangan. Apalagi lomba baru. Selain itu, mereka kan masih belajar. Kalo ada kesalahan itu biasa, kalo gamau ada kesalahan, ya ga usah belajar. Jadi mbak masnya harus maklum atas kekurangan-kekurangan yang terjadi. Janganlah menekan adik kelasnya terus. Kasian. Malah kita harus beri apresiasi atas ide-idenya yang brilian.
Yang selanjutnya saya akan membahas yang antar kelas saling mengejek dan mengolok. Entah itu karena “kelas” nya ataupun yang katanya curang atau yang lainnya. Cemandh-cemandhku semuanya, anak-anak kelas xii. Kita sebentar lagi lulus (semoga lulus 100% dengan jujur dan smala meraih nilai UN tertinggi nasional, amin). Ngapain kita berpecah belah. Ngapain kita saling bermusuhan. Apa sih manfaatnya? Ini hanyalah lomba. Tujuannya untuk refreshing. Janganlah gara-gara “human error” panitia, malah jadi pecah. Untuk apa? Apa manfaatnya perpecahan itu?
Kemudian bagi yang mengolok-olok “kelas”, ngapain mengolok-olok begitu? Apakah kalian sudah tidak punya rasa peduli terhadap “kelas” yang diolok-olok itu? Apakah kalian tidak kasihan terhadap mereka. Mereka juga teman kita. Kita adalah smalane. Janganlah saling menyakiti. 5 atau 10 tahun ke depan, mungkin saja kita akan membutuhkan teman-teman yang ada di “kelas” lain tersebut, dan itu TIDAK AKAN MELIHAT KELAS lagi. Misalnya, kita membutuhkan pekerjaan di suatu saat, terus ada teman yang sudah punya perusahaan. Saat itu, apakah kita akan melihat “kelas” itu lagi?
Setelah kita lulus nanti, cap kita adalah lulusan SMALA. Bukan lulusan kelas s atau lulusan kelas r. Jadi kita ini sama! Ga ada yang beda! Jadi hilangkanlah rasa2 “anti…” dan sebagainya. Marilah kita kembali bersatu, kembali berjuang bersama untuk membawa SMALA menjadi yang terbaik. Karena kita semua punya tugas sama, posisi sama. Kita semua calon penerus perjuangan bangsa. Tetap bersatu! Jangan berpecah belah!
Sekian dulu tulisan ini (tulisan atau ketikan ya?). Kayanya susunan katanya amburadul lagi. Maaf kalau masih amburadul. Mohon dimengerti karena saya bukan ahli menulis. Selain itu, jika ada kata2 saya yang menyinggung, maafkan saya juga. Karena hanya Allah saja yang Maha Sempurna. Terima kasih.
hmmmm, setuju banget mas. entah ini wordpress masih keurus atau nggak, tapi aku cuma mau berpendapat juga mas, lebih tepatnya sih curhat. yang masalah terpecah belah itu mas. saya sekarang kelas 11. dulu kelas 10 dan mas anas kelas 12, jadi masih ngerasain jamannya dulu.
dulu waktu awal masuk smala sedih banget mas, apalagi sama kakak genku sendiri yang kelas 12. serasa ada dinding pembatas di antara kita karena perbedaan “RSBI” dan “REGULER”. kita merasa asing di antara mereka.
terus masalah yang waktu cereal itu ya mas?? sempat ngelihat waktu itu ada kakak kelas 12 yang marah marah sama panitianya. kasihan banget mas panitianya, padahal mereka juga sudah berusaha semaksimal mungkin. dan juga tidak sepenuhnya salah panitia, terkadang salah dari kelas 12nya. sempat terbersit dipikiran saya kalau kakak kelas 12 ini ternyata egois semua ya. kalau mereka dari kakak kelas 12 menilai/merasa bahwa yang “BARU” ini kualitasnya semakin menurun, saya ingin tau mas-mbaknya itu menilai dari segi/aspek apa??
saya sering baca di yahoo, atau bahkan di forum ikasmanca di kaskus, kalau smala makin lama itu makin berkurang kualitasnya. yang katanya banyak anak yang hedon lah, manja lah. lha yang hedon itu katanya dilihat dari acara MPDK yang diadain di Gramex 1 tahun di atasnya mas. perasaan itu juga karena permintaan dari bapak-ibu guru. jadi bukan murni semua salah dari panitia.
terus juga saya lihat di forum itu alumninya juga hanya membicarakan masalah cewek-cewek saja. apakah itu pantas menjadi masukan untuk kita sedangkan alumni sendiri masih belum bisa jaga sikap?? mereka seperti hanya omong doang, membicarakan/mengomentari sesuatu tapi sikap mereka gak bisa jadi jaminan komentar tersebut bermutu atau tidak. maaf mas, bukan berarti menghina. saya cuma mau mengungkapkan sesuatu yang dari dulu ingin saya ungkapkan.