Berapa Nilai Agamamu?

20130327-213557.jpg

Saat nilai di matematikamu 80, orang-orang berkata, “wah, kamu pinter ya”. Saat nilai fisikamu 85, orang-orang akan berkata, “anak ini cerdas”. Namun, saat nilai pendidikan agamamu 90, tak ada satupun orang akan berkomentar. Bahkan, jika nilai MIPA-mu 60, orang-orang akan mencibir walaupun pada saat yang sama nilai pendidikan agamamu 90.

Fenomena itu adalah hal biasa di kalangan masyarakat. Karena kebanyakan orang tua dan sebagian besar masyarakat memandang bahwa matematika dan fisika, untuk siswa jurusan IPA, dan pelajaran “dunia” yang lain merupakan modal yang paling penting untuk menghadapi masa depan. Sehingga tidak heran bila kebanyakan orang tua lebih banyak mendaftarkan anak ke tempat les tambahan pelajaran daripada ke tempat ngaji atau madrasah.

Memang tidak bisa dipungkiri, matematika dan teman-temannya penting untuk dipelajari. Mereka adalah modal penting untuk meraih masa depan. Dengan menguasai pelajarn-pelajaran itu, dari SMP sampai perguruan tinggi favorit bisa diraih. Bahkan dengan pemahaman matematika dan kemampuan dasar yang kuat, sekolah di luar negeri bukanlah hal yang mustahil.

Tapi, manusia sering lupa, pendidikan agama adalah pendidikan yang paling penting untuk masa depan. Tidak hanya untuk masa depan di akhirat, tetapi juga sebagai modal persiapan dunia.

Loh, untuk masa depan di dunia juga?

Ya! Dengan ilmu agama, pemuda-pemuda yang akan mengalami stres tidak akan terjerumus ke narkoba karena akan selalu ingat Allah sehingga masa depannya tetap cerah. Dengan pemahaman agama yang benar, seorang pejabat tidak akan melakukan korupsi karena takut pada Allah sehingga nama baik keluarga dan kehidupan anak-anaknya tetap baik. Bisa dibayangkan, jika manusia dengan pemahaman agama yang baik dan mempraktikkan dengan baik pula, kezhaliman akan berkurang dengan sendirinya, orang-orang akan gemar berbagi daripada berebut, dan kehidupan akan jauh lebih tentram.

Tapi… Nilai agama di rapot bagus, belum tentu dia pinter agama kan?

Nilai di rapot memang tidak selalu mencerminkan pemahaman. Akan tetapi, dengan meperhatikan dan menanyakan nilai pendidikan agama setiap pembagian rapot sejak SD, maka akan menimbulkan kesadaran bagi anak bahwa belajar agama sangat penting. Seperti halnya pikiran siswa zaman sekarang bahwa matematika merupakan salah satu pelajaran penting, karena mindset tersebut sudah tertanam sejak SD saat orang tua selalu bertanya tentang nilai matematika mereka.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya berharap anak menjadi terpelajar, tetapi juga akan menjadi orang terdidik dengan iman, islam, dan taqwa. Terakhir, dalam surat Adz-dzariyat ayat 56, Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”

IPTEK penting, tapi IMTAQ jauh lebih penting

Sakit: Sekolah Kesabaran

Saat berjalan menuju tempat shalat, mereka berbincang santai. Mereka menanyakan kondisi salah seorang di antara mereka yang kembali mengalami sakit yang sebelumnya sempat hilang beberapa saat. Si Uli pun menjelaskan kondisi dia dan mengapa dia bisa kembali dalam kondisi sakit setelah sebelumnya sempat terlihat sehat. Dia berbicara dengan senyum, bahkan tak terlihat raut muka seseorang yang tertimpa cobaan.

Teman Uli yang beberapa bulan lebih muda dari dia akhirnya bertanya, “Kamu sakit seperti ini, masih bisa tersenyum ya?”

Uli pun menjawab, “Kesedihan saya sudah cukup di awal sakit. Sekarang sudah saatnya ia digantikan kesabaran yang membuat semuanya terasa lebih baik dari sebelumnya”.

“Karena kesabaran dapat membuat rohani tetap sehat. Alhamdulillah, ya Allah, kesehatan rohani lebih penting daripada kesehatan jasmani. Dengan rohani yang sehat, aku masih bisa bersyukur kepada-Mu”, imbuhnya dalam hati.

Selalu Mengeluh

Akhir-akhir ini sering mengalami yang namanya kehilangan arah. Entah karena ini adalah proses adaptasi atau kurang kuat memegang prinsip. Sering kali mengeluh hal-hal yang tak sepatutnya untuk dikeluhkan. Seharusnya lebih banyak yang harus disyukuri. Apalagi, saat roda berada di bawah, Dia tak bosan-bosannya untuk Menegur, Mengingatkan, dan Mengembalikan pikiran ini agar bisa kembali membedakan mana yang seharusnya diikuti dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Patut bersyukur selalu dan mengurangi atau bahkan menghilangkan keluhan-keluhan yang sering muncul. Alhamdulillah…. Langkah pertama untuk kembali bersyukur. Semoga langkah kedua dan berikutnya bisa kembali konsisten untuk menunjukkan rasa syukur kepada-Nya.

Don’t wonder why Allah doesn’t grant all our wishes immediately, but rather give thanks that He doesn’t punish us immediately for all of our mistakes

Renungan

Sering aku malu pada alam
Yang selalu bertasbih dan bersalam
Karena tunduk pada sang Pencipta Alam
Ya!
Aku kalah dengan mereka
Hanya ambisi dunia yang kujaga
Membuatku lupa
Membuatku lalai
Membuatku terbuai
Dengan apa yang seharusnya kucapai
Ampuni aku Ya Rahman
Atas kelalaianku di zona nyaman

Ini koreksi untuk diri
Yang sedang dalam masa transisi
Mencari jati diri
Untuk menghadapi masa kini

Semua terasa berputar kembali
Saat muncul tanda tanya ini
Sebenarnya,
Apa yang sedang kucari di sini
Tempat yang kita namakan sebagai bumi
Tempat sebagian orang saling mengasihi
Tempat sebagian lain tak peduli
Bahkan membuat beberapa merasa sendiri

Bukan maksud tak mensyukuri
Semua nikmat yang telah Kau beri
Namun, semua ini…
Ingin membuatku cepat kembali
Ya Rabbii

Menghindari Nafsu

Allah ta’ala berfirman, artinya
“Dan siapa yang lebih sesat dari orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah”
(QS. Al-qashas : 50)

Hmm… Setelah membaca ayat ini, teringat bahwa mengikuti hawa nafsu sangat dilarang. Ancamannya adalah tidak mendapat petunjuk dari Allah sehingga akan membawa ke dalam kesesatan. Na’udzubillah min dzaalik. Semoga semua keputusan, tindakan, dan perbuatan yang dilakukan selama ini selalu mendapat ridho-Nya dan tidak mengikuti hawa nafsu. Jadikan kita yang mengendalikan nafsu, bukan nafsu yang mengendalikan kita…

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat… 🙂

Kita Semua Calon Penerus Perjuangan Bangsa

Kemarin adalah hari terakhirku di semester 1 kelas xii di smala. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Mungkin tidak terasa berjalan. Tetapi terasa berlari. Begitu cepat. Hingga aku merasa, sepertinya baru kemarin aku masuk smala.

Hari terakhir di semester 1 ditutup dengan final-final lomba olahraga yang telah diadakan dalam beberapa hari terakhir dan lomba-lomba seru-seruan. Kok seru-seruan? Ya! Emang seru-seruan. Namanya juga lomba habis UAS. Tujuannya adalah untuk merefresh otak kita yang telah butek, stres, jayus (oh, ini ga masuk ya), dsb (dan saya bingung). Otak yang telah bekerja kurang lebih sekitar kira-kira (maaf menggunakan kata2 ga efektif) 6 bulan. Dan puncaknya saat UAS.

Nah, terus apa hubungannya dengan judul yang kayanya juga geje itu? Namanya juga lomba buatan manusia. Pasti tak terlepas dari kekurangan-kekurangan. Kekurangan kekurangan itu bisa berasal dari macam-macam hal. Tapi banyak anak kelas xii yang mengkritik panitia yang kelas x dan xi. Ada yang bilang ga tersedia wasit yang adil, ada yang bilang panitianya ga tegas, dan semacamnya. Dan masalah lain adalah ada kelas-kelas mengejek beberapa kelas lain karena “kelas”nya. Dan yang ada juga kelas-kelas yang tak terima dengan keputusan-keputusan panitia.

Okelah mari kita tinjau satu-satu (woosh, koyo wong serius ae hahaha). Dari segi panitia, seharusnya mbak mas itu bisa “sedikit” mengerti lah. Namanya manusia pasti punya salah. Panitia-panitia yang isinya anak kelas x dan xi sebenernya sudah luar biasa. Mau menunjukkan kreativitas mereka. Banyak lomba-lomba yang menurut saya “baru” dan “segar”. Nah, karena lomba baru, maka dibutuhkan aturan-aturan baru. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, namanya juga lomba-lomba yang aturan-aturannya dibuat manusia. Ingat, aturan-aturannya hanya dibuat manusia, pastilah ada kekurangan. Aturan-aturan lomba lama aja masih ada kekurangan. Apalagi lomba baru. Selain itu, mereka kan masih belajar. Kalo ada kesalahan itu biasa, kalo gamau ada kesalahan, ya ga usah belajar. Jadi mbak masnya harus maklum atas kekurangan-kekurangan yang terjadi. Janganlah menekan adik kelasnya terus. Kasian. Malah kita harus beri apresiasi atas ide-idenya yang brilian.

Yang selanjutnya saya akan membahas yang antar kelas saling mengejek dan mengolok. Entah itu karena “kelas” nya ataupun yang katanya curang atau yang lainnya. Cemandh-cemandhku semuanya, anak-anak kelas xii. Kita sebentar lagi lulus (semoga lulus 100% dengan jujur dan smala meraih nilai UN tertinggi nasional, amin). Ngapain kita berpecah belah. Ngapain kita saling bermusuhan. Apa sih manfaatnya? Ini hanyalah lomba. Tujuannya untuk refreshing. Janganlah gara-gara “human error” panitia, malah jadi pecah. Untuk apa? Apa manfaatnya perpecahan itu?

Kemudian bagi yang mengolok-olok “kelas”, ngapain mengolok-olok begitu? Apakah kalian sudah tidak punya rasa peduli terhadap “kelas” yang diolok-olok itu? Apakah kalian tidak kasihan terhadap mereka. Mereka juga teman kita. Kita adalah smalane. Janganlah saling menyakiti. 5 atau 10 tahun ke depan, mungkin saja kita akan membutuhkan teman-teman yang ada di “kelas” lain tersebut, dan itu TIDAK AKAN MELIHAT KELAS lagi. Misalnya, kita membutuhkan pekerjaan di suatu saat, terus ada teman yang sudah punya perusahaan. Saat itu, apakah kita akan melihat “kelas” itu lagi?

Setelah kita lulus nanti, cap kita adalah lulusan SMALA. Bukan lulusan kelas s atau lulusan kelas r. Jadi kita ini sama! Ga ada yang beda! Jadi hilangkanlah rasa2 “anti…” dan sebagainya. Marilah kita kembali bersatu, kembali berjuang bersama untuk membawa SMALA menjadi yang terbaik. Karena kita semua punya tugas sama, posisi sama. Kita semua calon penerus perjuangan bangsa. Tetap bersatu! Jangan berpecah belah!

Sekian dulu tulisan ini (tulisan atau ketikan ya?). Kayanya susunan katanya amburadul lagi. Maaf kalau masih amburadul. Mohon dimengerti karena saya bukan ahli menulis. Selain itu, jika ada kata2 saya yang menyinggung, maafkan saya juga. Karena hanya Allah saja yang Maha Sempurna. Terima kasih. 🙂

Semua Yang Hidup Pasti Mati

Mendengar ajakan teman-teman kelasnya untuk melayat karena ada keluarga temannya meninggal dunia, dia hanya terdiam. Karena baru kali ini dia akan melayat. Dia berpikir, apakah yang akan dilakukan di sana. Apakah berdiam diri? Atau mengobrol? Atau bagaimana?

Anggap saja namanya si fulan. Si fulan ini hanya mengiyakan ajakan teman-temannya itu. Dan dia mendengar kabar lebih lanjut, bahwa teman-temannya akan melayat sebelum jenazah dimakamkan. Agar mereka bisa ikut memakamkan jenazah.

Jadilah si Fulan ini berangkat ke tempat berkumpul yang sudah direncanakan sebelumnya agar bisa berangkat ke rumah temannya bersama-sama. Setelah berkumpul semua, merekapun berangkat bersama-sama.

Sesampainya di rumah temanya itu, mereka dipersilahkan duduk. Mereka semua menunggu di luar, termasuk si Fulan. Si Fulan hanya melihat sekitar, mengobrol dengan temannya, dan berbicara dalam hatinya, “oh, begini ya melayat itu”. Awalnya tidak ada hal yang istimewa yang dia dapatkan. Dia hanya menunggu. Tapi tak tau sampai kapan. Fulan dan teman-temannya menunggu jenazah agar dibawa ke tempat persinggahan terakhirnya di dunia.

Dan momen itu pun datang juga. Jenazah disiapkan untuk dibawa ke kuburan. Semua yang hadir di sana berdiri. Melihat ke arah yang sama. Hati Fulan pun mulai bergetar. “Wah, nanti kalau saya mati siapa yang mengurusi seperti ini”, pikirnya. Beberapa saat kemudian, dibawalah jenazah oleh rombongan keluarga ke kompleks kuburan yang ada di dekat rumah temannya itu. Si Fulan mengikuti rombongan itu. Namun, dia dan teman-temannya berada di rombongan paling belakang.

Mereka pun ikut masuk ke kompleks kuburan yang di dalamnya telah ada tanah kosong yang digali dan disiapkan untuk menguburkan jenazah. Hati Fulan semakin kencang bergetar. Dia tak mengetahui perasaan apa ini.

Singkat cerita, jenazah pun dimasukkan ke liang lahat dan dikuburkan. Tak ada sedikitpun harta yang dimasukkan kecuali beberapa lembar kain kafan. Dan sekarang hati fulan berguncang sangat keras. Dia ingin sekali menangis. Hatinya berbisik, “Ya Allah, akankah kelak aku seperti ini? Meninggalkan semuanya yang ada di dunia? Tidak ada sanak familiku dan harta-hartaku yang menemaniku di sana? Lalu bisakah aku menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar-Nakir tentang siapa Tuhanku, Nabiku, Agamaku, dan Petunjukku? Jikapun bisa, apakah aku akan menjawab dengan lancar? Setelah itu, akankah aku terhindar dari siksa kubur? Ya Allah, ampunilah aku yang sering tak bisa menghindar dari dosa-dosa kecil dan besar. Ampunilah hamba-Mu ini yang penuh dengan lumur dosa, yang sering kufur terhadap nikmat-Mu, yang sering lalai dalam mengerjakan kewajiban-kewajibannya yang menjadi hak-hak-Mu. Karena aku mengetahui dari firman-firman-Mu bahwasanya siksamu amatlah pedih. Aku tahu, aku tak akan pernah mampu, tak akan pernah kuat untuk menerima azab yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan jahiliyahku. Ya Allah, ampuni aku”.

Walaupun fisiknya terlihat tegar, tapi hatinya menangis, berteriak sangat kencang. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun, dia tak ingin matanya terurai air mata. Biarkanlah hatinya saja yang menangis sejadi-jadinya. Setelah hari itu, ia pun bertaubat, taubatannasuha. Dan ingin kembali menempuh jalan-Nya yang lurus

***

Hikmah dari cerita yang strukturnya kurang baik ini adalah kita sebagai manusia kelak pasti mati. Allah telah menyatakan, setiap yang hidup pasti mati. Termasuk kita. Maka pertanyaannya. Apakah bekal kita? Apakah yang kita persiapkan untuk menghadapi kematian itu? Apakah kita mempersiapkan harta kita? Ataukah amalan-amalan baik? Atau bahkan, dosa-dosa dan maksiat kita? (na’udzubillah min dzaalik). Ya! Harta dan seluruh saudara kita tak akan menemani kita di alam kubur kelak. Hanya amalan-amalan kita yang akan menemani.

Hikmah selanjutnya, mungkin kita sering acuh tak acuh jika ada orang-orang yang meninggal dunia. Bukan acuh tak acuh sih. Kita peduli, tapi peduli hanya di lisan. Hanya mengucapkan “inna lillah wa inna ilaihi raaji’uun”. Dan selanjutnya? Selesai. Tak ada niatan untuk berta’ziah, menghibur keluarga. Padahal kalau kita berta’ziah, maka pahala yang didapatkan sangat banyak, apalagi kalau kita ikut menshalatkan.. Selain pahala yang banyak, mungkin kita akan mendapatkan sesuatu yang didapatkan si Fulan tadi. Bertaubat…